Senin, 14 November 2011

BUDAYA PEMAKAMAN DI TORAJA

Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan  yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante  biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.[24] Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar.[27] Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

Pesta Maras Taun Di Bangka Belitung

Kali ini kita berlayar dan berlabuh ke sebuah desa bernama Desa Selat Nasik yang ada di Pulau Mendanau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Masyarakat di Desa Selat Nasik memiliki pesta adat tahunan yang disebut maras taun. Pesta maras taun adalah pesta yang digelar untuk merayakan hari panen padi. Tradisi ini awalnya hanya dilakukan para petani, kemudian diikuti juga para nelayan dan seluruh penduduk sebagai ungkapan rasa syukur. Para petani bersyukur atas hasil panen yang berlimpah dan para nelayan bersyukur atas penangkapan ikan tenggiri dan air laut yang tenang.Pesta maras taun bermakna penduduk desa Selat Nasik meninggalkan tahun lampau dengan rasa syukur dan menyambut tahun yang baru dengan harapan akan kebaikan.  Kata maras taun sendiri diambil dari kata maras berarti memotong dan taun berarti tahun. Tradisi ini biasanya berlangsung selama tiga hari berturut-turut.Pada pesta adat ini disajikan beragam kesenian tradisional dari Bangka Belitung dan dari daerah lainnya, seperti kesenian Stambul Fajar, yaitu keroncong khas Belitung, Tari Piring khas suku Minang, dan Teater Dulmuluk khas Sumatera Selatan. Selain kesenian tradisional ada juga pertunjukan musik organ tunggal untuk menambah kemeriahan pesta.
Setelah dua hari menyuguhkan beragam kesenian tradisional, tibalah saatnya puncak perayaan maras taun. Acara puncak dibuka dengan tari dan lagu maras taun. Tari dan lagu maras taun dibawakan oleh 12 gadis cilik  berpakaian petani perempuan. Kedua belas penari cilik ini memakai atasan kebaya warna-warni dan kain lipat pendek.Mereka juga menggunakan selendang sebagai hiasan kepala dan topi caping. Seperti kostumnya, gerak dalam tari maras taun ini juga menggambarkan gerak-gerak petani yang sedang memanen. Sambil menari mereka juga melantunkan lagu yang bercerita tentang ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang mereka dapatkan pada tahun itu.
Setelah pesta dibuka dengan tari dan lagu maras taun, acara dilanjutkan dengan tradisi Kesalan. Tradisi kesalan merupakan rangkaian acara pengungkapan rasa syukur dengn doa-doa yang dipimpin oleh dua orang tetua adat dari Desa Selat Nasik. Setelah memimpin doa, kedua orang tetua ini kemudian melakukan ritual penyiraman air yang telah dicampur dengan daun Nereuse dan dau ati-ati. Makan penyiraman air ini adalah untuk membersihkan kesialan dari penduduk desa.Acara yang paling meriah dan paling ditunggu-tunggu dalam pesta maras taun adalah tradisi berebut lepat. Lepat adalah makanan tradisional terbuat dari beras, dibungkus dengan daun pisang, dan dikukus. Khusus pesta maras taun di Bangka Belitung, lepat dibuat dari beras merah dan potongan ikan atau daging sapi.  Lepat yang disajikan ada yang besar berukuran 25 kilogram dan ada yang kecil-kecil yang dibuat sebanyak 5000 buah. Lepat yang berukuran besar dibuat untuk ritual pemotongan yang dilakukan oleh pemimpin desa.
Setelah dipotong, lepat akan dibagi-bagikan kepada warga yang mengikuti pesta. Pemotongan lepat oleh pemimpin adat ini adalah menyimbolkan kewajiban seorang pemimpin yang harus melayani warganya. Setelah acara pemotongan lepat, seluruh warga kemudian beramai-ramai memperebutkan lepat beras merah yang sudah disediakan. Acara berebut lepat ini memiliki makna kegembiraan penduduk desa atas hasil panen padi dan ikan mereka dapatkan.Anda bisa datang dan bergabung dalam kemeriahan pesta maras taun. Maras taun terbuka untuk umum dan tidak memungut bayaran sama sekali. Anda bisa datang langsung ke Desa Selat Nasik dengan menyewa perahu dari pelabuhan Tanjung Pandan di Kebupaten Belitung dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Di Pulau Mendanau tidak ada penginapan yang bisa anda sewa. Namun uniknya, anda bisa menumpang di rumah-rumah penduduk karena mereka sangat terbuka dan bersahabat terhadap para wisatawan yang datang ke pulau mereka.Trn-Ike(8/11)pi

Tradisi Memotong Jari di Papua

 Apakah ungkapan kesedihan yang dipertunjukkan oleh seseorang yang kehilangan anggota keluarganya. Menangis, barang kali itu yang paling sering kita jumpai. Bagi umumnya masyarakat pengunungan tengah dan khususnya masyarakat Wamena ungkapan kesedihan akibat kehilangan salah satu anggota keluarga tidak hanya dengan menangis saja.
Biasanya mereka akan melumuri dirinya dengan lumpur untuk jangka waktu tertentu. Namun yang membuat budaya mereka berbeda dengan budaya kebanyakan suku di daerah lain adalah memotong jari mereka.
Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh para Yakuza (kelompok orangasasi garis keras terkenal di Jepang) jika mereka telah melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau gagal dalam menjalankan misi mereka. Sebagai ungkapan penyesalannya, mereka wajib memotong salah satu jari mereka. Bagi masyarakat pengunungan tengah, pemotongan jari dilakukan apabila anggota keluarga terdekat seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, atau adik meninggal dunia.
Pemotongan jari ini melambangkan kepedihan dan sakitnya bila kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah, keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri.
Pemotongan jari itu umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Namun tidak menutup kemungkinan pemotongan jari dilakukan oleh anggota keluarga dari pihak orang tua laki-laki atau pun perempuan. Pemotongan jari tersebut dapat pula diartikan sebagai upaya untuk mencegah 'terulang kembali' malapetakayang telah merenggut nyawa seseorang di dalam keluarga yang berduka.
Seperti kisah seorang ibu asal Moni (sebuah suku di daerah Paniai), dia bercerita bahwa jari kelingkingnya digigit oleh ibunya ketika ia baru dilahirkan. Hal itu terpaksa dilakukan oleh sang ibu karena beberapa orang anakyang dilahirkan sebelumnya selalu meninggal dunia. Dengan memutuskan jari kelingking kanan anak baru saja ia lahirkan, sang ibu berharap agar kejadianyang menimpa anak-anak sebelumnya tidak terjadi pada sang bayi. Hal ini terdengar sangat eksrim, namun kenyataannya memang demikian, wanita asal Moni ini telah memberikan banyak cucu dan cicit kepada sang ibu.
Pemotongan jari dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang memotong jari dengan menggunakan alat tajam seperti pisau, parang, atau kapak. Cara lainnya adalah dengan mengikat jari dengan seutas tali beberapa waktu lamanya sehingga jaringanyang terikat menjadi mati kemudian dipotong.
Namun kini budaya 'potong jari' sudah ditinggalkan. sekarang jarang ditemui orang yang melakukannya beberapa dekade belakangan ini. Yang masih dapat kita jumpai saat ini adalah mereka yang pernah melakukannya tempo dulu. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh agama yang telah masuk hingga ke pelosok daerah di Papua.

Tradisi Muang Jong Ritus Menjaga Keseimbangan Alam di Belitung

Setiap tahun masyarakat suku laut di Kepulauan Bangka Belitung menggelar ritual Muang Jong untuk keselamatan mereka yang mencari nafkah di laut. Kini upacara sakral itu menjadi bagian dari daya tarik wisata di daerah ini.Syair ”Gajah Manunggang” yang berstruktur seperti pantun itu sendiri mengambil metafora terkait keberadaan ikan besar berbentuk seperti gajah. Ikan ”berbelalai” dan ”bertaring” ini dipercaya benar-benar ada. Mereka menyebut hewan laut— oleh masyarakat pada umumnya dianggap hanya mitos—tersebut sebagai gajah mina.
Seperti kisah lumba-lumba yang kerap menolong para nelayan saat terkena musibah di laut, gajah mina pun demikian. Setelah terapung-apung di laut lepas, gajah minalah yang diharapkan mau menyediakan diri jadi tunggangan Orang Sawang agar selamat dan bisa pulang ke tengah komunitasnya. Bait-bait lagu itu juga berisikan ratapan, doa, dan harapan yang merefleksikan kesedihan akan musibah yang menimpa kerabat mereka sesama Orang Sawang.Sejatinya, beberapa nyanyian komunitas suku laut yang ada di wilayah perairan Kepulauan Bangka Belitung ini hanya dimunculkan saat acara ritual tertentu. Salah satunya dalam upacara Muang Jong yang dilakukan setahun sekali setiap menjelang datangnya musim angin barat di kawasan ini.
Namun, seiring berjalannya waktu dan persentuhan mereka yang kian intens dengan ”orang darat”, tabu-tabu itu mulai menipis. Beberapa bagian dari rangkaian ritual tersebut masih bisa dihadirkan ke khalayak luar, bahkan dipanggungkan di luar upacara-upacara sakral mereka. Upacara Muang Jong yang seharusnya hanya berlangsung sekali setahun, biasanya digelar bulan Juli saat bulan naik pada penanggalan hitungan ganjil sebelum tanggal 21, pun sudah bisa ”dipesan” untuk kepentingan agenda kepariwisataan pemerintah setempat.
Sedekah laut
Kisah itu bermula ketika pada satu masa sekelompok Orang Sawang yang tengah berada di laut lepas ditimpa musibah. Ombak bergulung-gulung yang menyertai hujan badai telah membalikkan perahu mereka. Setelah berminggu-minggu terapung, akhirnya pertolongan itu datang lewat penjelmaan dewa-dewi yang belakangan dipercaya sebagai penguasa laut.
Mereka diselamatkan ke tempat yang disebut gusong timur. Di sana diperlihatkan sebuah jong (perahu) dan pondok kecil yang mereka sebut ancak. Ketika para penyelamat Orang Sawang itu menghilang, sadarlah mereka bahwa sang penyelamat tak lain adalah dewa-dewi penguasa laut.
”Menurut yang empunya cerita, sejak itulah Orang Sawang memutuskan mengadakan ritual Muang Jong dengan cara meniru bentuk jong dan ancak yang diperlihatkan kepada mereka,” tutur Salim Yan Albert Hoogstat, pemerhati budaya dan tradisi Belitung yang banyak bergaul dengan Orang Sawang.
Dalam bahasa umum, upacara Muang Jong yang berpuncak pada ritual membuang miniatur perahu/kapal berikut sesaji yang menyertainya ke laut adalah semacam kegiatan sedekah laut. Selain untuk mengenang arwah leluhur mereka yang meninggal karena ganasnya ombak di lautan, tradisi ini sekaligus sebagai sarana untuk memohon agar diberikan perlindungan dan keselamatan bagi siapa pun yang menggantungkan hidup dengan mencari nafkah di laut.
Bulan Juli dipilih sebagai waktu pelaksanaan Muang Jong lebih karena pertimbangan bahwa pada bulan-bulan berikutnya datang angin barat. Pada bulan-bulan tersebut biasanya ombak di laut mulai mengganas, ditandai tingginya empasan gelombang dan cuaca yang kian tak menentu.
”Pelaksanaannya paling tidak berlangsung tiga hari tiga malam. Di dalamnya banyak ritual yang harus dijalankan. Sebagai salah seorang dukun atau pawang di kalangan Orang Sawang, biasanya Mak Una ikut memimpin ritual-ritual itu,” kata Idris Said.
Meski bukan asli Orang Sawang, tetapi karena lahir dan besar di lingkungan masyarakat suku laut di daerah ini, Idris sudah diakui sebagai bagian dari mereka. Dalam relasi sosial antarmereka, Idris dilibatkan dalam berbagai ritual Orang Sawang. Saat ini ia bahkan memimpin Sanggar Ketimang Burong, kelompok kesenian yang mencoba mempresentasikan keberadaan Orang Sawang.

Kearifan lokal
Sebelum proses puncak pelarungan jong ke laut, ritual diawali pencarian tempat (pantai atau pulau) dan waktu upacara akan digelar.Setelah disetujui penguasa laut lewat ”komunikasi spiritual” dalam ritual khusus yang dipimpin oleh dukun atau sang pawang, rangkaian ritual berikutnya sudah menunggu.
Mulai dari prosesi mencari pokok pohon kayu di hutan untuk pembuatan replika jong, ancak, dan tiang yang akan dipasang di tanah lapang (tiang jitun menurut istilah mereka) hingga persiapan akhir sebelum jong dibuang ke laut, beragam ritual dilakukan.Baik berupa ritual untuk mengundang roh penjaga laut dan darat, yang dilakukan berkali-kali, maupun ritual yang dikemas dalam bentuk seni pertunjukan.
Momen berupa acara kesenian (baca: permainan Orang Sawang) inilah yang ditunggu-tunggu oleh orang luar. Tarian dan nyanyi- nyanyian yang dihadirkan lebih menggambarkan sikap dan pandangan hidup mereka sehari- hari. Di dalamnya tecermin berbagai kearifan lokal yang mereka miliki. Secara tak langsung, peristiwa budaya ini sekaligus berfungsi semacam bagian dari model sistem pewarisan nilai-nilai tradisi di kalangan Orang Sawang.
Setelah jong dibuang ke laut, selama tujuh hari mereka tidak dibolehkan melaut. Pelanggaran atas larangan ini dipercaya akan mendatangkan musibah.Dalam perspektif kekinian, semangat di balik larangan itu sesungguhnya terkandung pesan moral terkait perlunya upaya menjaga keseimbangan alam. Prinsip ini tak ubahnya seperti ”jeda tebang” dalam upaya pelestarian di bidang kehutanan.Kearifan untuk menjaga kehormanisan hidup pun tecermin dari salah satu rangkaian prosesi upacara Muang Jong. Sebutlah seperti dalam ritual ”jual-beli” jong, yang melibatkan dua pihak: roh halus penguasa laut dan darat. Proses ”jual-beli” itu sendiri bersifat simbolik.
Bahwa, rezeki dari laut sebagaimana yang selalu diharapkan oleh para nelayan akan terpenuhi bila manusia ”menerima” dan tidak ”memusuhi” laut dengan segala isinya. Laut dan ekosistem yang ada di dalamnya harus selalu dijaga. Oleh karena itu, kegiatan memungut hasil laut pun sepatutnya dilakukan dengan cara yang tidak berlebihan, tidak eksploitatif, apalagi sampai menggunakan bom ikan dan sejenisnya.

Di sisi lain, ritual ini juga mengedepankan semangat menjaga keharmonisan hidup antara orang-orang suku laut dan orang darat. Kedua pihak harus bisa saling menerima dan menghargai, tentu dengan segala adat dan tradisi masing-masing. (KEN)

Tradisi Perang Ketupat di Tempilang, Bangka Belitung

Gendang panjang, gendang Tempilang
Gendang disambit, kulet belulang
Tari kamei, tari Serimbang,
Tari kek nyambut, tamu yang datang
Lagu Timang Burong (Menimang Burung) pengiring tari serimbang itu dilantunkan secara lembut. Lagu itu, diiringi suara gendang dari enam penabuh serta alunan dawai (alat musik), untuk mengiringi gerak lima penari remaja yang menyambut tamu. Dengan baju dan selendang merah, kelima penari menyita perhatian ribuan pengunjung yang memadati Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Tarian yang menggambarkan kegembiraan sekumpulan burung siang menyambut kehadiran seekor burung malam itu merupakan pembukaan dari rangkaian tradisi perang ketupat, khas Kecamatan Tempilang di Bangka Belitung. Tradisi tersebut menggambarkan perang terhadap makhluk-makhluk halus yang jahat, yang sering mengganggu kehidupan masyarakat.
Tradisi itu sebenarnya sudah dimulai pada malam sebelum perang ketupat dimulai. Pada malam hari sebelumnya, tiga dukun Kecamatan Tempilang, yaitu dukun darat, dukun laut, dan dukun yang paling senior, memulai upacara Penimbongan.
Upacara dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya bertempat tinggal di darat. Sesaji untuk makanan makhluk halus itu diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan dari kayu menangor.Secara bergantian, ketiga dukun itu memanggil roh-roh di Gunung Panden, yaitu Akek Sekerincing, Besi Akek Simpai, Akek Bejanggut Kawat, Datuk Segenter Alam, Putri Urai Emas, Putri Lepek Panden, serta makhluk halus yang bermukim di Gunung Mares, yaitu Sumedang Jati Suara dan Akek Kebudin.Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari serangan roh-roh jahat. Karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik terhadap warga desa.
Pada upacara Penimbongan itu digelar tari campak, tari serimbang, tari kedidi, dan tari seramo. Tari campak dilakukan dalam beberapa tahap dengan iringan pantun yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Tari ini juga biasa digelar dalam pesta pernikahan atau pesta rakyat lainnya.Tari kedidi lebih mirip dengan peragaan jurus-jurus silat yang diilhami gerakan lincah burung kedidi, sedangkan tari seramo merupakan tari penutup yang menggambarkan pertempuran habis-habisan antara kebenaran melawan kejahatan.
Seusai upacara Penimbongan, para dukun itu kembali mengadakan upacara Ngancak, yakni pada tengah malamnya. Upacara Ngancak dimaksudkan memberi makan kepada makhluk halus penunggu laut.Diterangi empat batang lilin, dukun laut membuka acara itu dengan membaca mantra-mantra pemanggil makhluk halus penunggu laut, di antara bebatuan tepi Pantai Pasir Kuning, Tempilang. Nama-nama makhluk halus itu diyakini tidak boleh diberitahukan kepada masyarakat agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
Seperti pada upacara Penimbongan, upacara Ngancak juga dilengkapi sesaji bagi makhluk halus penunggu laut. Sesaji itu dipercaya merupakan makanan kesukaan siluman buaya, yaitu buk pulot atau nasi ketan, telur rebus, dan pisang rejang.


Perang ketupat
Pagi harinya, seusai tari serimbang digelar, dukun darat dan dukun laut bersatu merapal mantra di depan wadah yang berisi 40 ketupat. Mereka juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar perayaan tersebut dilindungi, jauh dari bencana.Di tengah membaca mantra, dukun darat tiba-tiba tak sadarkan diri (trance) dan terjatuh. Dukun laut menolongnya dengan membaca beberapa mantra, dan akhirnya dukun darat pun sadar dalam hitungan detik.
Menurut beberapa orang tua di tempat tersebut, ketika itu dukun darat sedang berhubungan dengan arwah para leluhur. Kenyataannya, setelah siuman, dukun darat menyampaikan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan (pantangan) warga selama tiga hari, antara lain melaut, bertengkar, menjuntai kaki dari sampan ke laut, menjemur pakaian di pagar, dan mencuci kelambu serta cincin di sungai atau laut.Setelah semua ritual doa selesai, kedua dukun itu langsung menata ketupat di atas sehelai tikar pandan. Sepuluh ketupat menghadap ke sisi darat dan sepuluh lainnya ke sisi laut. Kemudian, 20 pemuda yang menjadi peserta perang ketupat juga berhadapan dalam dua kelompok, menghadap ke laut dan ke darat.
Dukun darat memberi contoh dengan melemparkan ketupat ke punggung dukun laut dan kemudian dibalas, tetapi ketupat tidak boleh dilemparkan ke arah kepala. Kemudian, dengan aba-aba peluit dari dukun laut, perang ketupat pun dimulai.Ke-20 pemuda langsung menghambur ke tengah dan saling melemparkan ketupat ke arah lawan mereka. Semua bersemangat melemparkan ketupat sekeras-kerasnya dan berebut ketupat yang jatuh. Keadaan kacau sampai dukun laut meniup peluitnya tanda usai perang dan mereka pun berjabat tangan.Selanjutnya, perang babak kedua dimulai. Prosesnya sama dengan yang pertama, tetapi pesertanya diganti. Perang kali ini pun tidak kalah serunya karena semua peserta melempar ketupat dengan penuh emosi.Rangkaian upacara itu ditutup dengan upacara Nganyot Perae atau menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut. Upacara itu dimaksudkan mengantar para makhluk halus pulang agar tidak mengganggu masyarakat Tempilang.

Pergeseran budaya
Kentalnya pengaruh dukun dan dominannya aspek animisme (kepercayaan terhadap roh dan mahluk halus) dalam tradisi perang ketupat terjadi karena budaya ini merupakan warisan masyarakat asli Pulau Bangka yang belum beragama, atau sering disebut sebagai orang Lom. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan dimulainya tradisi ini. Namun, berdasarkan cerita rakyat, ketika Gunung Krakatu meletus pada tahun 1883, tradisi ini sudah ada.Seiring dengan masuknya pengaruh Islam ke Bangka, tradisi tersebut pun mengalami beberapa perubahan cara dan pergeseran substansi. Meskipun tetap turut menonton perang ketupat, sebagian besar warga yang beragama Islam telah mengubah beberapa ritual menjadi bernuansa islami.Perayaan yang dulunya difokuskan bagi roh-roh halus, kini sebagian ditujukan untuk mengenang arwah leluhur. Demikian pula dengan sesaji, diubah menjadi kenduri untuk dimakan bersama.

BUDAYA LESONG PANJANG DIBELITONG

Lesong Panjang : nama dari alat dan permainan itu sendiri. biasanya dimainkan pada saat musim panen padi tiba, alat utamanya adalah sebuah lesong terbuat dari kayu pilihan yang bersuara keras dan jernih. Panjang lesong bervariasi antara 1 - 1,5 meter dengan diameter 25 cm - 30 cm. Alat untuk memukul lesong dinamakan Alu dan panjang bervariasi dari 75 cm hingga 120cm dengan diameter hingga 6 cm. lesong dibuat dalam berbagai model dan ukuran sesuai selera pemain. Cara memainkan alat tersebut adalah dengan memukul-mukul lesong dengan alu.

Rumah adat Bangka Belitung


Rumah panggung, rumah limas dan rumah rakit merupakan rumah tradisional Bangka Belitung. Hampir sama dengan propinsi lain yang ada di Pulau Sumatera model arsitektur rumah adat Bangka Belitung berciri arsitektur Melayu.Terdapat tiga macam ciri arsitektur rumah adat yaitu arsitektur Melayu awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Arsitektur rumah Melayu Awal berujud rumah panggung kayu dimana hampir semua bahan material yang di pakai untuk rumah ini berupa kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang banyak tumbuh dan sangat mudah diperoleh di sekitar pemukiman.   Arsitektur rumah Melayu Awal ini biasanya beratap tinggi dan sebagian atapnya miring. Saat pembangunan rumah yang berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang, dimana bangunan rumah yang didirikan memiliki 9 buah tiang. Tiang utama tempatnya di tengah dan didirikan pertama kali. Kemuduan atap rumah ditutup dengan daun rumbia. Sementara bagian dindingnya biasanya dibuat dari bahan pelepah/kulit kayu atau menggunakan buluh (bambu).