Senin, 14 November 2011

RUMAH ADAT MENTAWAI


Mentawai memang kaya akan budaya. Salaha satunya adalah rumah adat. Mentawai terdapat tiga macam rumah, yaitu
                1. Uma
Rumah besar yang menjadi rumah induk tempat penginapan bersama serta tempat menyimpan warisan pusaka, dan menjadi tempat suci untuk persembahan, penyimpanan tengkorak binatang buruan.Setiap kampung mempunyai Uma sendiri. Kepala Uma disebut Rimata, lambang pemimpin kehormatan, orang yang lebih arif mengenai hal-hal yang penting buat Uma, seseorang yang berbakat menjadi pemimpin.Uma adalah rumah besar yang berfungsi sebagai balai pertemuan semua kerabat dan upacara-upacara bersama bagi semua anggotanya. Uma terbuat dari kayu kokoh dan berbentuk rumah panggung yang dibawahnya digunakan sebagai tempat pemeliharaan ternak seperti babi.

2. Lalep
Tempat tinggal suami istri yang pernikahannya sudah dianggap sah secara adat. Biasanya lalep terletak di dalam Uma.

3. Rusuk
Suatu pemondokan khusus, tempat penginapan bagi anak-anak muda, para janda dan mereka yang diusir dari kampung.

Bangunan Uma
Uma dibangun tanpa menggunakan paku satupun. Kekuatan konstruksinya didapat dari sistem sambungan silang bertakik dan sambungan berpasak yang piwai. Bangunan uma menyerupai atap tenda memanjang yang dibangun diatas tiang-tiang, karena atap yang terbuat dari rumbia yang menaungi menjulur ke bawah sampai hampir mencapai lantai rumah. Pohon sagu atau rumbia merupakan bahan penutup atap dari daun daun pohon rumbia yang banyak tumbuh di rawa atau di pantai. Kelebihan menggunakan atap rumbia yaitu terlihat alami, menimbulkan suasana baru, ringan dan relatif murah. Sedangkan kekurangannya ialah daya tahan maksimal 4 tahun, sulit melakukan upaya perbaikan atau pergantian, dan rawan bocor bila terjadi hujan lebat.Kerangka bangunan, terdiri dari lima perangkat konstruksi dari tonggak-tonggak, balok-balok, dan tiang-tiang penopang atap. Kerangka bangunan ini dibangun berjejer melintang ke belakang dan saling berhubungan dengan balok memanjang.Kekuatan struktur Uma dihasilkan oleh teknik ikat, tusuk dan sambung sedemikian rupa. Bahan Uma diambil dari alam sekitar dan dipilih yang bermutu baik.

Denah
Luas rumah persatuan kepala keluarga dengan rata-rata panjang : 31 m, lebar : 10 m, dan tinggi = 7 m. Pembagian ruangannya cukup sederhana, di bagian depan adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk menerima tamu. Sedang pada bagian dalam digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak suatu keadaan yang wajar mengingat kegiatan siang hari bagi laki-laki dihabiskan di ladang atau di hutan, sementara istrinya bertugas di kebun halaman dan memasak. Bangunan uma ini terdiri atas dua bagian ruangan besar. Di depan ada beranda yang luas tanpa dinding yang berfungsi untuk ruang tamu dan ruang keluarga berkumpul dan bercakap-cakap pada malam hari. Di belakangnya, ruangan yang berdinding menjadi ruang tidur dan dapur, tanpa sekat.

Pondasi
Pondasi rumah terbuat dari batu karang. Batu karang terbukti cocok untuk menjadi pondasi.
Selain itu, batu kali langka di Mentawai, sehingga batu karang menjadi pilihan utama. Tiang-tiang utama (uggla) misalnya, selalu dipilih pohon uggla yang sudah tua. Dua batang pohon, setara 7m3 sampai 9m3 kayu, untuk mendirikan Uma sebesar 7m x 22m dengan 10 buah uggla. Material uggla berupa kayu arriribuk (Oncospermae horridum, merupakan salah satu marga dari suku pinang-pinangan (Arecaceae).
Kolom pada Uma dibuat tidak sama panjang untuk menanggulangi keadaan kontur tanah yang tidak rata. Penyusunan tiang dan balok pada prinsipnya tidak menggunakan paku, tapi dengan cara memakai teknik ikat, tusuk, dan sambung, juga menggunakan sambungan lubang dengan pasak, sambungan pangku dan sambungan takik. Susunan tiang-tiang tersebut bersandar di atas batu pondasi dengan stabilitas didapat dari rel-rel melintang yang masuk ke lubang yang dibuat di dalam tiang.

Dinding
Sisi depan rumah ditutup dengan dinding atap rumbia yang terbentang kebawah sampai batas 1 m (ditengah (tempat masuk) 1,5 m) dari lantai. Rumbia atau disebut juga (pohon) sagu adalah nama sejenis palma penghasil pati sagu. Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang dihiasi gambar (tagga) atau ukiran, sedangkan ruangan dibawahnya dan sisi kanan dan kirinya tidak berdinding, yang disebut serambi depan.

Lantai
Lantai beranda dari papan, sedangkan lantai ruangan tidur dan dapur dari belahan kayu pohon kelapa yang dipasang jarang-jarang sehingga hampir sepanjang malam penghuni rumah tidak tidur mendengar suara babi yang amat berisik di bawah kolong rumah. Batang kelapa tua dapat dijadikan bahan bangunan, mebel, jembatan darurat, kerangka perahu dan kayu bakar. Batang yang benar-benar tua dan kering sangat tahan terhadap sengatan rayap. Kayu dari pohon kelapa yang dijadikan mebel dapat diserut sampai permukaannya licin dengan tekstur yang menarik. Tinggi lantai 1 m dari tanah, yang dibangunnya ditempat yang tidak rata, ketidakrataan ditanggulangi dengan tiang-tiang penopang lanai yang berlainan panjangnya. Sedangkan fungsi tanah dibawah kolong dijadikan kubangan babi sebagai perlindungan saat hujan dan sebagai perolehan makanan sampah yang dijatuhkan ke bawah lewat celah-celah lantai yang terbuat dari pohon nibung. Pohon nibung merupakan tumbuhan asli kawasan Asia Tenggara, tinggi pohon mencapai 20 m, batangnya lurus berduri, digunakan untuk bahan bangunan atau lantai rumah, daun yang tua dipakai sebagai atap rumah, umbutnya enak dimakan. Namun lantai yang jarang itu juga menyelesaikan masalah sampah rumah tangga. Saat memasak, potongan sayur, kulit kentang, dan sisa makanan tinggal dibuang ke sela lantai dan langsung disambar oleh babi-babi di bawah sana. Lantai digunakan pula untuk menari (puturukat). Yang letaknya dilorong tengah, antara perapian dan dinding belakang bangsal dan terbuat dari papan yang lebar serta diserut sampai halus sehingga tidak kesat lagi permukaannya, juga bahkan dapat menghasilkan instrumen musik pula.


Kolong
Terdapat dibawah rumah tempat tinggal dan tidak memiliki dinding. Kolong ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk berternak babi.

Atap
Atap Uma disebut tobat, yang dipilih dari daun sagu yang tua dan disusun rapat. Karena itulah Uma sanggup bertahan selama puluhan tahun. Atap uma baru diganti setelah lebih 20 tahun. Sebuah uma masih bisa dipakai setelah 2 atau 3 kali ganti tobat. Reng – reng terbuat dari kayu pohon palem dan yang mendukung atap dan rumbia bertopang ke balok – balok memanjang sebelah bawah dan tengah.

Pintu
Uma ini berukuran cukup besar dan terbuka lebar, tidak memiliki pintu. Yang unik dari uma ini adalah banyaknya tengkorak binatang terpajang di dekat atap pintu masuk teras tamu dan ruang utama serta ada anyam-anyaman kering yang terpintal panjang. Tengkorak yang digantung pada sisi atas pintu masuk adalah tengkorak babi peliharaan. Banyaknya tengkorak babi itu menandakan jumlah pesta yang telah digelar di uma tersebut. Sementara tengkorak yang digantung di dekat sisi atas pintu ruang utama adalah tengkorak hasil buruan yang dimaksudkan agar penunggu uma senantiasa mendapatkan rezeki.

 Jendela
Setelah masyarakat Siberut mulai mengenal dapur untuk kegiatan memasak, Uma mulai dipasangi jendela sehingga ventilasi menjadi lebih baik.

Tangga
Tangga terbuat dari batang pohon Sagu, yang tiap ± 15 cm diberi takuk-takuk dengan bertahap kapak untuk tempat berjalan

Ornamen/ragam hias
Pola-pola ornamen atau dekorasi rumah Mentawai, sangat dipengaruhi oleh pengaruh India wujudnya berupa bentukan sulur-sulur yang bentuk tumbuh-tumbuhannya dengan dedaunan dan bunga-bungaan.

PEMBAGIAN RUANG UMA
Di muka tempat masuk yang sebenarnya. Disini terdapat batu pengasah kapak dan pisau, dan ditaruh bumbung bambu yang besar untuk dipakai para wanita dan anak- anak untuk mengambil air dari anak sungai yang dekat dengan rumah. Sedangkan para pria memakai tempat ini pada siang hari yang pengap dan bercuaca mendung untuk mengurus perkakas. Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang seringkali dihiasi ukiran atau gambar (tangga).Ruangan dibawahnya terbuka, dan sisi kanan dan kirinya bagian pertama dari rumah yang berada dibawah naungan atap tidak berdinding, yang biasa disebut dengan serambi depan atau kagareat dengan panjang lima meter.

1. Diantara tiang-tiang dipasang bangku-bangku disebelah kiri dan kanannya.
2. Beranda depan difungsikan untuk berkumpul, mengobrol dan menerima tamu.
Ruang dalam pertama, cahaya diperoleh lewat lubang pintu, ruangan yang dimaksud berwujud seperti bangsal yang panjang dan gelap dengan dinding papan yang menutupi sisi samping dan belakangnya. Kecuali lewat lubang pintu tingkap, kadang cahaya diperoleh lewat celah yang terjadi dengan jalan melepaskan salah satu papan dinding, dengan cara seperti ini jg dapat dipergunakan untuk masuk ke bilik-bilik samping (jairabba) yang berada di bawah bagian samping atap, dengan lantai panggung tersendiri. Pada panggung seperti ini ditaruh tuddukat, yaitu perangkat keuntungan ynag terdiri dari empat batang kayu yang dilubangi dengan cara membuat celah dan dengan panjang satu setengah sampai tiga meter.
Pertengahan rumah, terdapat konstruksi balok yang melintang. Dilantai sebelah depannya ada perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah, berfungsi sebagai tempat memasak seluruh kelompok saat perayaan. Perapian terbuat dari tanah yang dipadatkan dalam segi empat yang dibentuk oleh balok-balok yang saling dihubungkan dalam sistem pasak.
Ruangan uma terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Bagian depan : adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk berkumpul, mengobrol, dan menerima tamu. Di malam hari tempat ini dipakai untuk bercerita atau bercakap-cakap tentang kejadian sehari-hari, serta di gunakan sebagai ruang tidur bagi para pria.
b. Bagian dalam : digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak. Pada bagian tengah Uma terdapat ruangan untuk berkumpul dan dan menarikan tarian adat Mentawai.
Jenis-jenis ruangan pada Uma Berdasarkan Urutan dari Depan Sampai Belakang
1. Panggung : terbuat dari hamparan papan-papan yang tidak halus, yang terletak di sisi depan rumah. Disini terdapat batu pengasah, kapak, dan pisau. Juga ditaruh bumbung bambu yang besar-besar yang dipakai para wanita dan anak-anak untuk mengambil air dari anak sungai yang berada di dekat rumah, sedangkan para pria memakai tempat itu pada siang hari untuk bekerja mengurus perkakas.
2. Serambi depan : tempat untuk berkumpul dan tempat tidur para pria dan juga pada sisi kanan dan kirinya ada bangku kayu untuk menerima tamu.
3. Ruang dalam pertama : disini terdapat ruangan yang berwujud bangsal panjang dan gelap dengan dinding kurang lebih setinggi orang yang menutupi sisi samping dan belakang. Pencahayaan dalam ruang diperoleh lewat lubang pintu atau dengan dilepaskannya salah satu papan dinding. Biasanya ruangan ini digunakan untuk menjamu tamu dan tempat segala rapat dan upacara adat digelar.
4. Ruang dalam kedua : di berikan sekat dengan kayu-kayu sehingga memisahkan ruang utama. Dilantai sebelah depannya terdapat perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah tempat masuk pada waktu perayaan. Disisi kanan perangkat konstruksi balok melintang ketiga ini, tempat untuk menggantungkan bejana-bejana sajian untuk upacara memohon keberhasilan dalam berburu. Di lorong tengah, anatara perapian dan dinding belakang bangsal, lantainya terbuat dari papan lebar yang diserut sampai halus, yang merupakan tempat untuk menari.
PANGGUNG (BAGIAN BELAKANG)
Di tiap rumah tangga Mentawai mempunyai ladang sagu sendiri yang ditandai dengan tanaman kayu Irip sebagai pembatas antar ladang mereka Seperti halnya pohon kelapa tidak ada yang tidak terbuang dari sebuah pohon sagu. Daunnya untuk atap rumah, isi batangnya untuk makanan babi dan ayam dan sagu hasil saringan digunakan sebagai kudapan Orang Mentawai, kulit batangnya dijadikan untuk kayu bakar. Sementara akarnya digunakan untuk obat sakit perut dan pelepahnya digunakan untuk kayu timba (dedeibu), buahnya yang masak juga bisa dimakan. Bahkan ulat yang ada di batang sagu juga bisa menjadi santapan enak Orang Mentawai yang bisa dimakan mentah-mentah selagi ulat menggeliat atau di sup dan di sate.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar